Selain disebut sebagai Kota Patria, kota ini juga disebut sebagai Kota Peta (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Soepriadi. Laskar Peta melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan menuju kemerdekaan di daerah lain.
Ikan Koi yang populer di Jepang dapat dibudidayakan dengan baik di kota ini sehingga memberikan julukan tambahan sebagai Kota Koi.
Ada beberapa hal yang menarik tentang blitar yaitu kebudayaannya. Contohnya :
Grebeg Pancasila
Grebeg Pancasila adalah suatu upacara hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni yang didesain sebagai peristiwa budaya. Upacara ini berbeda dengan upacara lainnya. Ritus upacara ini berisi 3 (tiga) mata acara pokok yaitu:- Upacara Budaya
- Kirap Gunungan Limo
- Kenduri
Upacara tradisional Blitar yang lain yang selalu diadakan adalah upacara pencucian pusaka yaitu Gong Kyai Pradah. Upacara tradisional ini diikuti oleh hampir seluruh masyarakat Blitar. Upacara pencucian Gong Kyai Pradah adalah upacara tradisional yang dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke generasi di oleh masyarakat di wilayah Blitar. Selain itu, hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan budaya tradisional. Hal ini juga dimaksudkan untuk memberi berkah bagi siapa saja yang membawa atau dimandikan dengan air yang digunakan untuk pencucian Gong, yang merupakan salah satu alat musik tradisional Jawa.
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Blitar
http://www.eastjava.com/tourism/blitar/ina/grebeg-pancasila.html
WISATA KULINER BLITAR
Sepintas Nasi Pecel Blitar terlihat sama dengan nasi pecel yang umum dijumpai di Madiun, tapi entah kenapa lidah lebih cocok dengan racikan bumbu pecel Blitar. Rasa yang tidak terlalu manis dengan kacang yang tidak ditumbuk terlalu lembut menjadi keunggulan bumbu pecel Blitar.
Ada banyak warung yang menjual kuliner kebanggaan warga Blitar ini, salah satunya adalah Warung Mbok Bari yang sudah membuka cabang dimana-mana. Termasuk cabang yang terletak di dekat kompleks makam Bung Karno yang selalu ramai dikunjungi oleh pelanggan dan peziarah dari luar kota.
Tersedia berbagai macam lauk untuk melengkapi sepiring nasi yang sudah dilengkapi dengan daun singkong, taoge, kemangi dan potongan ketimun. Tinggal pilih tempe, tahu, potongan ayam berbumbu, jerohan hingga daging empal. Harganya pun tidak terlalu mahal, mulai dari 6.000 rupiah untuk sepiring nasi pecel dengan tambahan lauk tempe goreng. Murah kan?
Tidak sulit mencari Warung Soto Bok Ireng yang
beralamatkan di Jalan Kelud, Blitar dekat perempatan lampu merah Jalan
Cokroaminoto. Semula berpikir penamaan “Bok Ireng” berasal dari typo
menahun “Mbok Ireng”, ternyata dugaan saya salah. Bok berarti
jembatan dalam bahasa Jawa. Dikisahkan persis di sebelah warung terdapat
jembatan kecil yang konon di tahun 1900-an dicat warna hitam semenjak
warung berdiri. Kini cat hitamnya sudah memudar namun kharisma Soto Bok
Ireng masih tetap awet hingga diteruskan generasi kedua yang sudah mulai
berjualan sejak tahun 1968. Kuah berbumbu diguyur di atas mangkok berisi nasi yang sudah
diberi potongan daging sapi dan jerohan seperti usus dan paru. Ikut
dibubuhkan sambal dan petis untuk menambah nikmat rasa. Perpaduan kuah
menciptakan rasa seperti campuran soto dan rawon saat masuk di mulut.
Tidak terasa aneh tapi justru maknyus! Sungguh beda rasa dengan soto
Jawa Timur-an pada umumnya. Warung Soto Bok Ireng buka mulai pukul 8
pagi hingga 11 siang dengan harga 7.000 rupiah per mangkok.
Termos berwarna merah yang sengaja diletakkan di samping pintu gerbang
Museum Bung Karno mengundang rasa penasaran. Saat saya dekati rupanya si
bapak menjual es potong yang menawarkan ragam rasa. Benar-benar godaan
di siang hari! Slurppp. Es potong ini tidak dibungkus dengan wadah
plastik, melainkan dengan kertas yang sudah tercetak nama dan alamat
pabriknya. Produk yang ramah lingkungan.Es Blitar menjadi sebutan secara propinsi, kota-kota di
Jawa Timur menamainya demikian karena beragam merk bermunculan. Tapi di
Blitar sendiri yang terkenal adalah merk Ice Drop yang
pabriknya terletak di Jalan Ahmad Yani sebelah barat gedung DPRD
Blitar. Tidak sulit mencarinya, seputaran Jalan Ahmad Yani dan alun-alun
banyak dijumpai penjual Ice Drop yang masih menggunakan sepeda dengan
dua termos merah yang menempel di kanan kiri jok sepedanya.
Masih di alun-alun tepatnya di samping Lapas II A Blitar, ada beberapa warung yang menjual minuman segar bernama Es Plered.
Banyak yang merekomendasikan minuman serupa di daerah Kebonrojo, namun
tak ada salahnya mencicipi plered di alun-alun. Bedanya hanya pewarnaan
saja, plered yang terbuat dari tepung beras diberi warna merah muda
untuk menarik perhatian. Rasa dari plered sendiri hambar, syrup dan
santan yang menguyurnya menjadikan Es Plered ( harga mulai 2.500 rupiah )
cocok dinikmati saat dahaga menyerang.Malam hari Kota Blitar cenderung berhawa sejuk, tak ada salahnya
juga singgah ke Jalan Lawu dan menghampiri gerobak dengan spanduk
bertuliskan STMJ atau Susu Telur Madu Jahe. Puluhan
atau mungkin ratusan butir telur kampung tertata rapi di dalam gerobak.
Melihat aksi penjual yang meracik campuran susu, telur, madu, dan jahe
sungguh menjadi tontonan yang menarik. Minuman penambah stamina ini
dibanderol harga 4.000 rupiah.
Tak jauh dari Stasiun Blitar, tepatnya di Jalan Veteran saya tidak sengaja menemukan sebuah warung yang menjual Nasi Ampok.
Apa itu Nasi Ampok? Butiran jagung yang sudah ditumbuk halus kemudian
dibubur padat akan membentuk suatu adonan mirip makanan pokok nasi
beras. Nasi jagung inilah yang menjadi pengganti dari nasi beras di
beberapa daerah yang masih kekurangan.Nasi Ampok merupakan campuran dari nasi jagung dengan lauk pauk seperti
ikan gereh, sambal goreng isi daun pepaya dan terong, ditambah pelengkap
berupa terancam ( parutan kelapa mirip urap ). Harganya pun murah
meriah, cuma 4.000 rupiah! Meski terdengar seperti panganan ndeso yang
kurang gizi, tapi jangan salah… Justru nasi jagung lebih menyehatkan
daripada mengonsumsi nasi beras yang kandungan gulanya lebih tinggi, tak
heran sekarang banyak pengidap diabetes mulai melirik nasi jagung
sebagai terapi.
sumber : http://jejak-bocahilang.com/2015/01/06/kuliner-asyik-blitar/





Tidak ada komentar:
Posting Komentar