Powered By Blogger

Rabu, 30 September 2015

Blitar

Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah barat daya Surabaya dan 80 km sebelah barat Malang. Kota Blitar terkenal sebagai tempat dimakamkannya presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Selain disebut sebagai Kota Patria, kota ini juga disebut sebagai Kota Peta (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Soepriadi. Laskar Peta melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan menuju kemerdekaan di daerah lain.
Ikan Koi yang populer di Jepang dapat dibudidayakan dengan baik di kota ini sehingga memberikan julukan tambahan sebagai Kota Koi.
Ada beberapa hal yang menarik tentang blitar yaitu kebudayaannya. Contohnya :

Grebeg Pancasila

Grebeg Pancasila adalah suatu upacara hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni yang didesain sebagai peristiwa budaya. Upacara ini berbeda dengan upacara lainnya. Ritus upacara ini berisi 3 (tiga) mata acara pokok yaitu:
  1. Upacara Budaya
  2. Kirap Gunungan Limo
  3. Kenduri
Upacara ini selalu diadakan sekali dalam setahun di kabupaten Blitar. Hal ini ditujukan untuk mengenang proses pembuatan Pancasila yang menjadi landasan hukum Indonesia. Upacara ini juga diikuti oleh semua masyarakat Blitar dan sering dihadiri oleh pejabat-pejabat Indonesia.
Upacara tradisional Blitar yang lain yang selalu diadakan adalah upacara pencucian pusaka yaitu Gong Kyai Pradah. Upacara tradisional ini diikuti oleh hampir seluruh masyarakat Blitar. Upacara pencucian Gong Kyai Pradah adalah upacara tradisional yang dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke generasi di oleh masyarakat di wilayah Blitar. Selain itu, hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan budaya tradisional. Hal ini juga dimaksudkan untuk memberi berkah bagi siapa saja yang membawa atau dimandikan dengan air yang digunakan untuk pencucian Gong, yang merupakan salah satu alat musik tradisional Jawa. 
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Blitar
http://www.eastjava.com/tourism/blitar/ina/grebeg-pancasila.html

WISATA KULINER BLITAR
Sepintas Nasi Pecel Blitar terlihat sama dengan nasi pecel yang umum dijumpai di Madiun, tapi entah kenapa lidah lebih cocok dengan racikan bumbu pecel Blitar. Rasa yang tidak terlalu manis dengan kacang yang tidak ditumbuk terlalu lembut menjadi keunggulan bumbu pecel Blitar.
Ada banyak warung yang menjual kuliner kebanggaan warga Blitar ini, salah satunya adalah Warung Mbok Bari yang sudah membuka cabang dimana-mana. Termasuk cabang yang terletak di dekat kompleks makam Bung Karno yang selalu ramai dikunjungi oleh pelanggan dan peziarah dari luar kota.
Tersedia berbagai macam lauk untuk melengkapi sepiring nasi yang sudah dilengkapi dengan daun singkong, taoge, kemangi dan potongan ketimun. Tinggal pilih tempe, tahu, potongan ayam berbumbu, jerohan hingga daging empal. Harganya pun tidak terlalu mahal, mulai dari 6.000 rupiah untuk sepiring nasi pecel dengan tambahan lauk tempe goreng. Murah kan?
Tidak sulit mencari Warung Soto Bok Ireng yang beralamatkan di Jalan Kelud, Blitar dekat perempatan lampu merah Jalan Cokroaminoto. Semula berpikir penamaan “Bok Ireng” berasal dari typo menahun “Mbok Ireng”, ternyata dugaan saya salah. Bok berarti jembatan dalam bahasa Jawa. Dikisahkan persis di sebelah warung terdapat jembatan kecil yang konon di tahun 1900-an dicat warna hitam semenjak warung berdiri. Kini cat hitamnya sudah memudar namun kharisma Soto Bok Ireng masih tetap awet hingga diteruskan generasi kedua yang sudah mulai berjualan sejak tahun 1968. Kuah berbumbu diguyur di atas mangkok berisi nasi yang sudah diberi potongan daging sapi dan jerohan seperti usus dan paru. Ikut dibubuhkan sambal dan petis untuk menambah nikmat rasa. Perpaduan kuah menciptakan rasa seperti campuran soto dan rawon saat masuk di mulut. Tidak terasa aneh tapi justru maknyus! Sungguh beda rasa dengan soto Jawa Timur-an pada umumnya. Warung Soto Bok Ireng buka mulai pukul 8 pagi hingga 11 siang dengan harga 7.000 rupiah per mangkok.
Termos berwarna merah yang sengaja diletakkan di samping pintu gerbang Museum Bung Karno mengundang rasa penasaran. Saat saya dekati rupanya si bapak menjual es potong yang menawarkan ragam rasa. Benar-benar godaan di siang hari! Slurppp. Es potong ini tidak dibungkus dengan wadah plastik, melainkan dengan kertas yang sudah tercetak nama dan alamat pabriknya. Produk yang ramah lingkungan.Es Blitar menjadi sebutan secara propinsi, kota-kota di Jawa Timur menamainya demikian karena beragam merk bermunculan. Tapi di Blitar sendiri yang terkenal adalah merk Ice Drop yang pabriknya terletak di Jalan Ahmad Yani sebelah barat gedung DPRD Blitar. Tidak sulit mencarinya, seputaran Jalan Ahmad Yani dan alun-alun banyak dijumpai penjual Ice Drop yang masih menggunakan sepeda dengan dua termos merah yang menempel di kanan kiri jok sepedanya.
Masih di alun-alun tepatnya di samping Lapas II A Blitar, ada beberapa warung yang menjual minuman segar bernama Es Plered. Banyak yang merekomendasikan minuman serupa di daerah Kebonrojo, namun tak ada salahnya mencicipi plered di alun-alun. Bedanya hanya pewarnaan saja, plered yang terbuat dari tepung beras diberi warna merah muda untuk menarik perhatian. Rasa dari plered sendiri hambar, syrup dan santan yang menguyurnya menjadikan Es Plered ( harga mulai 2.500 rupiah ) cocok dinikmati saat dahaga menyerang.Malam hari Kota Blitar cenderung berhawa sejuk, tak ada salahnya juga singgah ke Jalan Lawu dan menghampiri gerobak dengan spanduk bertuliskan STMJ atau Susu Telur Madu Jahe. Puluhan atau mungkin ratusan butir telur kampung tertata rapi di dalam gerobak. Melihat aksi penjual yang meracik campuran susu, telur, madu, dan jahe sungguh menjadi tontonan yang menarik. Minuman penambah stamina ini dibanderol harga 4.000 rupiah.
Tak jauh dari Stasiun Blitar, tepatnya di Jalan Veteran saya tidak sengaja menemukan sebuah warung yang menjual Nasi Ampok. Apa itu Nasi Ampok? Butiran jagung yang sudah ditumbuk halus kemudian dibubur padat akan membentuk suatu adonan mirip makanan pokok nasi beras. Nasi jagung inilah yang menjadi pengganti dari nasi beras di beberapa daerah yang masih kekurangan.Nasi Ampok merupakan campuran dari nasi jagung dengan lauk pauk seperti ikan gereh, sambal goreng isi daun pepaya dan terong, ditambah pelengkap berupa terancam ( parutan kelapa mirip urap ). Harganya pun murah meriah, cuma 4.000 rupiah! Meski terdengar seperti panganan ndeso yang kurang gizi, tapi jangan salah… Justru nasi jagung lebih menyehatkan daripada mengonsumsi nasi beras yang kandungan gulanya lebih tinggi, tak heran sekarang banyak pengidap diabetes mulai melirik nasi jagung sebagai terapi.
sumber : http://jejak-bocahilang.com/2015/01/06/kuliner-asyik-blitar/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar